Pengungsi NTT Masih Dihantui Gempa Susulan, Trauma Belum Reda

Berita133 Views

Hampir tiga pekan setelah gempa besar mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, kehidupan ribuan warga belum kembali seperti sebelumnya. Sebagian keluarga masih tidur di bawah tenda, sebagian lainnya memilih bertahan di tempat terbuka karena belum berani masuk ke rumah. Gempa susulan yang terus muncul membuat rasa takut sulit hilang, terutama bagi warga yang menyaksikan sendiri bangunan runtuh ketika guncangan utama terjadi.

Gempa utama bermagnitudo 7,7 terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58.23 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Kabupaten Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa dipicu aktivitas Flores Back Arc Thrust dan sempat memunculkan peringatan dini tsunami sebelum akhirnya dinyatakan berakhir.

Persoalan belum berhenti setelah guncangan pertama. Hingga 31 Agustus pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat 10.386 gempa susulan. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2. Bahkan pada 31 Agustus, gempa bermagnitudo 5,4 kembali mengguncang wilayah Flores dan dirasakan di Manggarai Timur, Manggarai, Ruteng, Bajawa, Labuan Bajo, serta Mbay.

Situasi tersebut menjelaskan mengapa ungkapan warga bahwa mereka terus dihantui gempa bukan sekadar gambaran emosional. Guncangan memang masih berulang dan sebagian masih dapat dirasakan secara langsung.

Rumah Rusak Membuat Warga Belum Berani Pulang

Bagi banyak keluarga, keputusan bertahan di posko bukan hanya disebabkan ketakutan terhadap gempa susulan. Kondisi rumah juga membuat mereka belum mempunyai pilihan aman untuk kembali.

Pada fase awal penanganan, BNPB mencatat kerusakan terjadi pada rumah warga, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, kantor pemerintahan, dan tempat ibadah di berbagai kabupaten. Di Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Nagekeo, Ngada, dan sejumlah wilayah lain, kerusakan ditemukan dengan tingkat berbeda.

Warga Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Siti Suliati, menjadi salah satu orang yang masih mengingat kuat saat rumahnya runtuh. Perempuan berusia 57 tahun itu menyaksikan rumah yang dibangun bersama almarhum suaminya ambruk dari jarak sekitar 10 meter ketika ia berusaha menyelamatkan diri.

Hampir dua pekan setelah kejadian, ia masih berada di pengungsian.

Siti mengatakan dirinya masih sangat trauma karena menjadi bagian dari warga yang terkena langsung guncangan di Nangadhero. Ia juga menyaksikan perubahan kondisi laut setelah gempa. Pengalaman tersebut membuat setiap getaran kecil lebih mudah memunculkan kembali ketakutan.

Bagi warga dengan rumah rusak berat, persoalannya bahkan lebih jelas. Mereka bukan hanya takut kembali, tetapi memang tidak mempunyai bangunan yang layak ditempati.

Gempa Susulan Terjadi Ribuan Kali

Data BMKG memperlihatkan tingkat aktivitas susulan yang sangat tinggi setelah gempa utama.

Pada hari pertama saja tercatat sekitar 733 gempa susulan. Hari kedua meningkat menjadi sekitar 786 kejadian. Pada hari keenam jumlahnya bahkan mencapai sekitar 887 kejadian. Setelah itu jumlah harian cenderung menurun, tetapi tidak berlangsung secara lurus karena kadang kembali meningkat.

Hingga hari keenam setelah gempa utama, BMKG sudah mencatat 4.258 gempa susulan. Sebanyak 118 di antaranya dirasakan masyarakat dan 31 kejadian memiliki magnitudo lebih dari 5.

Jumlah tersebut terus bertambah hingga melewati 10 ribu kejadian pada akhir Agustus.

BMKG menjelaskan rangkaian gempa susulan merupakan proses penyesuaian kerak bumi setelah pelepasan energi besar pada gempa utama. Jumlah kejadian biasanya menurun seiring waktu, tetapi penurunannya dapat berfluktuasi dari satu hari ke hari berikutnya.

Kondisi ini terasa sangat berbeda bagi warga yang berada di tenda.

Bagi peneliti, gempa kecil dapat menjadi bagian dari proses peluruhan. Bagi pengungsi yang baru kehilangan rumah atau anggota keluarga, getaran kecil dapat menjadi pengingat bahwa tanah masih bergerak.

“Menurut penulis, angka ribuan gempa susulan membantu menjelaskan mengapa pemulihan rasa aman tidak dapat dipaksakan hanya karena gempa utama sudah berlalu.”

Anak Anak Menjadi Kelompok yang Paling Mudah Ketakutan

Rasa takut tidak hanya dialami orang dewasa.

Natalia Muin, warga Desa Tonggurambang yang mengungsi di Lapangan Berdikari Danga, mengatakan trauma masih terasa kuat, terutama pada anak kecil. Menurutnya, anak anak memperlihatkan ketakutan yang lebih besar dibandingkan orang dewasa ketika gempa susulan kembali terasa.

Keadaan tersebut membuat pelayanan di posko tidak cukup hanya menyediakan beras, air, dan tenda.

Polres Nagekeo kemudian membuka Posko Terpadu yang menyediakan dapur lapangan, pelayanan kesehatan, fasilitas pengolahan air, akses internet, serta kegiatan trauma healing bagi warga dan anak anak.

Anak juga perlu tetap mempunyai ruang bermain.

Foto pengungsian di Lape pada akhir Agustus memperlihatkan anak anak masih bermain di sekitar tenda. Aktivitas sederhana seperti bermain bersama teman dapat membantu menjaga rutinitas ketika kehidupan keluarga berubah akibat bencana.

Sekolah juga menghadapi persoalan besar. Dashboard pendidikan BNPB mencatat 512 satuan pendidikan di tujuh kabupaten masuk dalam pendataan akibat gempa Flores. Sebanyak 94.452 siswa tercatat berada pada sekolah yang terkena, dengan ribuan ruang kelas mengalami kerusakan dan ribuan warga sekolah mengungsi.

Posko Menjadi Rumah Sementara Banyak Keluarga

Salah satu pusat pengungsian berada di Lapangan Berdikari Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Posko tersebut menampung warga dari sejumlah desa di sekitar wilayah pantai utara Flores. Pada 20 Agustus, terdapat tujuh posko utama yang dihuni antara lain warga Tonggurambang, Marapokot, dan Nangadhero.

Kondisi awal pengungsian tidak selalu nyaman.

Beberapa warga mengeluhkan keterbatasan air bersih, kasur, tikar, selimut, susu anak, popok bayi, dan perlengkapan lain. Sebagian tenda juga dipenuhi banyak penghuni dan cukup terbuka sehingga debu mudah masuk ketika angin bertiup kuat.

Di Mbay 2, sekitar 100 warga bahkan sempat bertahan dengan keterbatasan penerangan, fasilitas MCK, tenda, selimut, dan kebutuhan pokok tertentu. Posko tersebut berada sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Mbay.

Kondisi secara bertahap diperbaiki melalui bantuan pemerintah, aparat, organisasi masyarakat, lembaga kemanusiaan, dan warga.

Posko Terpadu Polres Nagekeo misalnya menyediakan sistem pengolahan air agar warga mempunyai akses lebih baik terhadap air bersih.

Air Bersih Menjadi Kebutuhan yang Terus Dikejar

Memasuki September, persoalan air masih mendapat perhatian khusus.

Gubernur NTT Melki Laka Lena pada 1 September menyatakan air bersih menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak bagi warga yang masih mengungsi akibat gempa Flores.

Kebutuhan air di lokasi pengungsian sangat besar karena digunakan bukan hanya untuk minum.

Warga memerlukannya untuk memasak, mencuci, mandi, menjaga kebersihan toilet, membersihkan peralatan makan, serta memenuhi kebutuhan bayi dan lansia.

Ketika ribuan orang berkumpul dalam satu kawasan, gangguan pasokan air dapat dengan cepat berubah menjadi persoalan kesehatan.

Pemerintah bersama aparat kemudian mengoperasikan water treatment di sejumlah lokasi. Saat Presiden Prabowo Subianto mengunjungi posko di Nagekeo pada akhir Agustus, salah satu fasilitas yang diperiksa adalah sumber air bersih dan sistem pengolahan air di kawasan pengungsian.

Ibu Hamil dan Bayi Membutuhkan Perhatian Khusus

Kondisi pengungsian mempunyai tantangan berbeda bagi kelompok rentan.

Ibu hamil membutuhkan pemeriksaan kesehatan secara teratur, sementara bayi memerlukan susu, popok, pakaian bersih, dan tempat tidur yang cukup hangat.

Anisa Hasym, seorang ibu hamil asal Desa Nangadhero, sempat mengatakan kebutuhan khusus bagi ibu hamil belum seluruhnya tersedia pada beberapa hari pertama pengungsian. Pelayanan kesehatan sudah diberikan, tetapi berbagai perlengkapan lain masih dibutuhkan.

Pada malam hari suhu di tenda juga dapat terasa dingin.

Pengungsi meminta selimut, minyak telon, minyak kayu putih, serta perlengkapan tidur untuk anak. Masalah nyamuk juga menjadi perhatian karena banyak tenda bersifat terbuka.

Di Desa Waekokak, sebagian warga bahkan masih tinggal di posko mandiri setelah dua pekan. Sebanyak 15 keluarga dengan total 61 orang tercatat bertahan di lokasi tersebut pada akhir Agustus. Di antara mereka terdapat anak TK, pelajar SD, SMP, SMA, ibu hamil, bayi, balita, dan lansia.

Warga Tetap Bertahan Meski Bantuan Mulai Datang

Bantuan mulai mengalir lebih teratur setelah fase pertama bencana.

Posko Tanggap Darurat di Danga menerima bahan pangan, air mineral, kebutuhan bayi, selimut, dan berbagai barang yang kemudian didistribusikan ke titik pengungsian. Pemerintah Kabupaten Nagekeo menyatakan distribusi diarahkan sampai wilayah yang lebih jauh dari pusat kota.

Polres Nagekeo pada 30 Agustus juga kembali mengirim sembako, selimut, kasur spons, dan perlengkapan lain ke Lapangan Berdikari Danga. Dapur umum kepolisian masih menyediakan makanan bagi warga sekitar dua pekan setelah gempa.

Meski kebutuhan fisik semakin tertangani, ketakutan terhadap gempa susulan tetap menjadi alasan kuat warga belum pulang.

ANTARA pada 23 Agustus mencatat sebanyak 150.576 orang masih mengungsi di NTT berdasarkan pemutakhiran BNPB sehari sebelumnya. Sebanyak 34.256 pengungsi berada di Nagekeo. Salah satu alasan banyak warga belum kembali adalah gempa susulan yang masih terjadi.

Angka pengungsi berubah seiring warga kembali ke rumah atau berpindah lokasi, tetapi jumlah tersebut memperlihatkan besarnya perpindahan penduduk setelah gempa utama.

Status Tanggap Darurat Diperpanjang

Pemerintah Provinsi NTT akhirnya memperpanjang masa tanggap darurat gempa Flores selama 14 hari.

Periode tambahan berlaku mulai 29 Agustus sampai 12 September 2026. Keputusan tersebut antara lain diambil karena aktivitas gempa susulan masih berlangsung di wilayah yang terkena.

Perpanjangan memberikan waktu tambahan untuk mengoperasikan posko, memenuhi kebutuhan logistik, melakukan pemeriksaan kesehatan, memperbarui data kerusakan, serta menentukan kebutuhan pembangunan kembali rumah.

BNPB pada awal September juga melakukan joint needs assessment untuk memetakan kebutuhan warga secara lebih rinci. Penilaian dilakukan agar bantuan lanjutan tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi sesuai kondisi setiap wilayah.

Pendataan rumah menjadi salah satu pekerjaan penting.

BNPB telah menyatakan pemerintah menyiapkan bantuan bagi rumah yang rusak, dengan besaran dan bentuk bantuan disesuaikan dengan kategori kerusakan setelah proses verifikasi selesai.

Gempa Utama Berasal dari Flores Back Arc Thrust

BMKG menjelaskan gempa 15 Agustus berasal dari aktivitas zona Flores Back Arc Thrust.

Struktur ini membentang di utara Kepulauan Nusa Tenggara dan merupakan sistem sesar yang telah dikenal mampu menghasilkan gempa kuat. Gempa M7,7 memiliki mekanisme sesar naik dengan episenter berada di laut.

Kedalaman hanya sekitar 15 kilometer membuat gempa tergolong dangkal.

Kombinasi magnitudo besar, kedalaman dangkal, lokasi di laut, dan mekanisme sesar naik menyebabkan BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami bagi sejumlah wilayah di NTT, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Bagi masyarakat pesisir, peringatan itu membuat pengalaman gempa menjadi semakin menegangkan.

Warga tidak hanya berusaha menjauh dari bangunan, tetapi juga bergerak menuju tempat lebih tinggi karena khawatir terhadap kenaikan muka laut.

Pengalaman evakuasi tersebut masih diingat warga beberapa pekan kemudian.

Getaran Kecil Tetap Membuat Warga Berlari

Secara ilmiah, kekuatan gempa susulan umumnya lebih kecil daripada gempa utama.

Namun, tubuh manusia tidak selalu menanggapi getaran berdasarkan angka magnitudo.

Warga yang pernah melihat tembok ambruk dapat langsung berdiri dan berlari ketika merasakan lantai bergerak sedikit saja. Suara kendaraan berat atau benda jatuh juga dapat memunculkan kepanikan karena menyerupai sensasi yang dialami ketika gempa.

Hal itulah yang terlihat di beberapa posko.

Warga tetap berada dalam keadaan siaga meskipun sudah berminggu minggu berlalu. Mereka memperhatikan setiap getaran dan masih ragu meninggalkan lokasi terbuka.

BMKG sendiri terus meminta masyarakat menghindari bangunan yang retak atau rusak serta tidak mempercayai informasi gempa yang tidak berasal dari sumber resmi.

“Rasa aman tidak kembali hanya karena jumlah gempa mulai berkurang. Warga juga perlu melihat rumahnya aman, keluarganya terlindungi, dan gempa susulan benar benar semakin jarang.”

Aktivitas Gempa Mulai Menurun tetapi Belum Berhenti

Analisis BMKG sampai hari ke 16 menunjukkan kecenderungan jumlah gempa susulan mulai menurun meskipun terjadi fluktuasi.

Pada hari pertama tercatat 733 kejadian. Hari keenam mencapai 887 kejadian. Memasuki hari kesepuluh jumlahnya sekitar 615, hari ke 14 sekitar 486, dan hari ke 16 sekitar 462 kejadian.

Penurunan tersebut memberi gambaran bahwa rangkaian gempa bergerak menuju kondisi yang lebih tenang, tetapi belum berarti aktivitas sudah selesai.

Data waktu nyata BMKG pada 5 September bahkan masih memperlihatkan beberapa kejadian di wilayah Flores dalam satu hari, termasuk gempa dengan magnitudo 4,4 dan sejumlah gempa yang lebih kecil.

Karena itu, warga masih diminta mengikuti informasi resmi dan tidak terburu buru memasuki bangunan yang belum diperiksa.

Bagi keluarga yang rumahnya sudah rusak berat, menunggu bukan lagi sekadar soal keberanian. Mereka membutuhkan kepastian tempat tinggal baru.

Pemeriksaan Rumah Menentukan Kapan Warga Bisa Kembali

Salah satu tahapan terpenting setelah keadaan mulai stabil adalah pemeriksaan kondisi bangunan.

Rumah yang masih berdiri belum tentu aman apabila terdapat retakan pada kolom, dinding, sambungan atap, atau bagian struktur lainnya.

Gempa susulan dapat memberikan tekanan tambahan terhadap bangunan yang sudah kehilangan sebagian kekuatannya.

BNPB menyiapkan skema bantuan berdasarkan kategori kerusakan. Pemerintah daerah dan petugas lapangan harus terlebih dahulu melakukan pendataan serta verifikasi agar setiap rumah masuk kategori yang sesuai.

Warga dengan rumah rusak ringan mungkin dapat kembali setelah perbaikan tertentu.

Namun, rumah rusak berat membutuhkan penanganan berbeda. Pemerintah Provinsi NTT menyatakan rumah dengan kategori rusak berat akan memperoleh bantuan pembangunan kembali dengan besaran mengikuti standar dan aturan penganggaran yang berlaku.

Sampai proses tersebut berjalan, tenda masih menjadi ruang tidur bagi banyak keluarga.

Malam hari di posko akhirnya tidak hanya diisi suara anak, percakapan warga, dan aktivitas relawan. Setiap getaran kecil masih mampu membuat penghuni terdiam sejenak, menunggu apakah tanah akan berhenti bergerak atau kembali mengguncang seperti pada pagi 15 Agustus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *