Gempa Flores Sisakan Trauma, Anak Manggarai Timur Jalani Pendampingan

Berita153 Views

Gempa Flores Sisakan Trauma, Anak Manggarai Timur Jalani Pendampingan Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 tidak hanya meninggalkan kerusakan rumah dan fasilitas umum. Lebih dari satu pekan setelah guncangan besar terjadi, banyak anak di Kabupaten Manggarai Timur masih menghadapi ketakutan, terutama ketika malam tiba dan ketika muncul gempa susulan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Manggarai Timur, Pranata Kristiani Agas, mengatakan sebagian anak merasa lebih aman tinggal di posko dibandingkan kembali ke rumah. Rasa takut mereka bukan hanya berkaitan dengan guncangan tanah, tetapi juga kekhawatiran terhadap tsunami setelah gempa utama sempat memicu peringatan dini.

Kondisi tersebut membuat pendampingan psikososial menjadi bagian penting dalam penanganan warga. Berbagai pihak mulai bergerak melalui kegiatan bermain, menggambar, senam, bernyanyi, percakapan bersama pendamping, serta layanan psikologi yang diharapkan berlangsung lebih lama dari sekadar beberapa hari.

Gempa Besar Terjadi pada Pagi Hari

Gempa Flores terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA. BMKG memperbarui kekuatan gempa menjadi magnitudo 7,7 dengan kedalaman sekitar 15 kilometer.

Pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo. BMKG menjelaskan sumber gempa berasal dari aktivitas Sesar Naik Flores dengan mekanisme sesar naik. Posisi sumber yang berada di laut membuat gempa tersebut juga membangkitkan tsunami.

Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan untuk beberapa wilayah. Manggarai bagian utara termasuk kawasan yang memperoleh status siaga dalam pemodelan awal BMKG. Peringatan kemudian diakhiri pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan menunjukkan tidak lagi terdapat kenaikan muka air laut yang dinilai membahayakan masyarakat.

Bagi orang dewasa, berakhirnya peringatan dapat menjadi tanda bahwa ancaman segera telah berkurang. Bagi anak, pengalaman berlari menuju tempat aman, mendengar kepanikan orang dewasa, melihat rumah rusak, serta bermalam di pengungsian dapat tersimpan jauh lebih lama.

Anak Takut ketika Malam Mulai Datang

Cerita mengenai ketakutan anak disampaikan langsung oleh Dinas PPPA Manggarai Timur kepada Menteri PPPA Arifah Fauzi.

Kristiani mengatakan anak dapat terlihat cukup biasa pada pagi dan siang hari, tetapi rasa takut kembali muncul ketika malam. Beberapa anak bahkan mengatakan kepada ibunya bahwa mereka tidak ingin pulang dan lebih nyaman berada di posko pengungsian.

Rasa takut terhadap tsunami menjadi perhatian khusus di posko yang berada dekat kawasan pesisir.

Situasi tersebut dapat dipahami karena gempa utama memang menghasilkan tsunami dan didahului peringatan yang meminta masyarakat menjauhi pantai. Anak yang menyaksikan orang dewasa berlari atau mendengar informasi tentang gelombang laut dapat menghubungkan gempa berikutnya dengan kemungkinan kejadian yang sama.

“Menurut penulis, rasa takut anak tidak seharusnya dianggap berlebihan hanya karena bahaya utama telah berlalu. Anak memahami bencana melalui apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan dari orang di sekelilingnya.”

Gambar Laut Menjadi Petunjuk dari Anak

Salah satu temuan menarik muncul ketika psikolog dan konselor meminta anak menggambar.

Kristiani mengatakan banyak anak memilih laut sebagai objek. Dalam sejumlah gambar, laut digambarkan bersama orang tua dan anak. Pilihan tersebut membuat pendamping melihat bahwa kekhawatiran mengenai tsunami masih berada dalam pikiran mereka.

Menggambar dapat memberi ruang kepada anak yang belum mampu menjelaskan rasa takut melalui percakapan panjang.

Tidak semua anak dapat berkata bahwa mereka cemas ketika mendengar suara tertentu atau merasa takut saat malam. Mereka mungkin menunjukkan perasaan melalui gambar, permainan, perubahan perilaku, atau keinginan terus berada dekat orang tua.

Pendamping kemudian dapat menggunakan kegiatan sederhana tersebut untuk membuka percakapan secara perlahan tanpa memaksa anak menceritakan pengalaman yang belum siap mereka ceritakan.

WHO menjelaskan dukungan psikologis awal setelah kejadian berat perlu diberikan dengan menghormati kemampuan, budaya, dan kebutuhan setiap orang. Pendamping sebaiknya membantu menciptakan rasa aman, mendengarkan, serta menghubungkan seseorang dengan bantuan yang dibutuhkan, bukan memaksa mereka mengulang pengalaman menakutkan.

Hampir Tujuh Ribu Anak Berada dalam Kelompok Rentan

Besarnya jumlah anak yang membutuhkan perhatian membuat layanan psikososial tidak dapat dilakukan hanya di satu titik.

Dinas PPPA Manggarai Timur melaporkan bahwa berdasarkan data hingga 24 Agustus malam terdapat 31.657 warga yang mengungsi. Mereka tersebar di tiga posko BPBD dan ratusan posko mandiri. Dari jumlah tersebut, tercatat 6.972 anak serta 12.725 perempuan.

Data kebencanaan terus berubah mengikuti proses verifikasi. Posko tanggap darurat Manggarai Timur kemudian melaporkan 31.372 pengungsi dan 36 korban meninggal hingga 25 Agustus pukul 18.00 WITA. Tercatat pula 643 warga mengalami luka.

Besarnya jumlah pengungsi memperlihatkan bahwa kebutuhan anak tidak terbatas pada makanan.

Mereka memerlukan tempat tidur yang cukup aman, akses sanitasi, pakaian, kebutuhan bayi, kesempatan belajar, ruang bermain, perlindungan dari kekerasan, serta orang dewasa yang dapat membantu ketika rasa takut muncul.

Polwan Masuk ke Posko Membawa Permainan dan Lagu

Polres Manggarai Timur menjadi salah satu pihak yang melakukan pendampingan bagi anak di pengungsian.

Personel polisi wanita mendatangi lokasi pengungsian dan menggelar kegiatan yang dikemas melalui permainan, bernyanyi, bercanda, serta interaksi ringan. Kegiatan diarahkan untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman bagi anak setelah menjalani hari hari yang penuh perubahan.

Pendekatan seperti ini terlihat sederhana, tetapi memiliki fungsi penting.

Ketika anak berada di pengungsian, rutinitas yang biasanya mereka kenal berubah. Mereka tidak tidur di kamar sendiri, sekolah dapat berhenti, ruang bermain hilang, sementara percakapan orang dewasa banyak berisi gempa, rumah rusak, korban, dan bantuan.

Permainan memberi anak kesempatan kembali melakukan kegiatan yang terasa familiar.

UNICEF menjelaskan anak yang mengalami bencana membutuhkan ruang aman untuk bermain, belajar, terhubung kembali dengan teman, dan merasakan kembali pola kehidupan yang dikenal. Dukungan keluarga serta aktivitas teratur ikut membantu anak memperoleh rasa aman.

KKN Unhas Dampingi Anak dengan Senam dan Puzzle

Pendampingan juga dilakukan Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik Tanggap Bencana Universitas Hasanuddin.

Dalam kegiatan di Manggarai Timur pada 21 Agustus, tim memberikan pelayanan kesehatan kepada 64 warga dan pendampingan psikososial kepada 13 anak. Aktivitas untuk anak meliputi senam pagi, mewarnai, serta menyusun puzzle. Kegiatan kembali dilanjutkan dengan senam dan pemulihan psikologis pada hari berikutnya.

Jumlah 13 anak memang kecil apabila dibandingkan ribuan anak yang berada di wilayah pengungsian.

Namun, kegiatan kelompok kecil dapat memberi kesempatan pendamping mengamati perilaku setiap anak dengan lebih dekat.

Anak yang memilih tidak ikut bermain, terus menangis, sulit berpisah dari orang tua, atau terlihat sangat takut dapat membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan anak yang mulai aktif berinteraksi.

Tim Unhas juga melakukan pemetaan kebutuhan sanitasi dan memasang penerangan. Hal tersebut penting karena perasaan aman anak sangat berhubungan dengan kondisi tempat tinggal sementara.

Anak di Satar Padut Mendapat Pendampingan Intensif

Pendampingan lain dilakukan jaringan Caritas Indonesia di Desa Satar Padut, Manggarai Timur.

Sebanyak 42 anak berusia sekitar tiga sampai 12 tahun dilaporkan mengikuti kegiatan psikososial secara intensif. Program serupa dijalankan di beberapa kawasan pengungsian Flores dengan tujuan membantu anak kembali merasa nyaman dan dapat menjalani kegiatan bersama.

Tim medis juga bergerak menuju wilayah yang sulit dijangkau.

Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga, misalnya, mengirim relawan ke kawasan Dampek, Manggarai Timur. Selain pelayanan dokter dan tenaga kesehatan, tim menjalankan pendampingan psikososial melalui permainan edukatif serta kegiatan bersama anak di posko.

Pendampingan seperti ini menunjukkan pemulihan psikologis mulai ditempatkan bersama pelayanan medis, bukan sebagai kegiatan tambahan yang baru dilakukan setelah seluruh kebutuhan lain selesai.

Menteri PPPA Minta Pendampingan Tidak Berhenti dalam Hitungan Hari

Menteri PPPA Arifah Fauzi menilai layanan psikososial tidak cukup dilakukan hanya satu atau dua kali.

Ia mendorong keterlibatan mahasiswa psikologi yang sedang menjalani KKN agar dapat ditempatkan di NTT dalam periode lebih panjang. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah membawa mahasiswa menggunakan pesawat Hercules kemudian menempatkan mereka selama beberapa bulan di wilayah yang membutuhkan.

Gagasan tersebut muncul karena jumlah anak yang memerlukan layanan cukup besar, sementara tenaga psikolog di daerah terbatas.

Pendampingan panjang juga memungkinkan petugas membedakan reaksi yang mulai berkurang secara alami dengan keluhan yang terus mengganggu kegiatan anak.

WHO menjelaskan hampir seluruh orang yang mengalami keadaan darurat dapat merasakan tekanan psikologis, tetapi banyak di antaranya berangsur membaik. Sebagian orang membutuhkan layanan tambahan ketika keluhan menetap atau menghambat kehidupan sehari hari.

Karena itu, tidak setiap anak yang takut setelah gempa harus diberi label mengalami gangguan psikologis tertentu.

Pemeriksaan profesional diperlukan apabila rasa takut terus berat, mengganggu tidur, membuat anak berhenti makan, menarik diri, kehilangan kemampuan beraktivitas, atau menunjukkan perubahan yang terus berlangsung.

Gempa Susulan Membuat Rasa Aman Sulit Kembali Cepat

Salah satu tantangan terbesar di Flores adalah gempa susulan yang terus terjadi.

BMKG mencatat hingga 20 Agustus pukul 05.00 WIB telah terjadi 3.394 gempa susulan dengan magnitudo antara 1,1 sampai 6,2. Angka tersebut terus bertambah pada hari berikutnya.

Bagi warga di pengungsian, setiap guncangan baru dapat mengingatkan kembali pada gempa utama.

Anak yang baru mulai berani tidur dapat kembali terbangun. Anak yang mulai masuk rumah mungkin kembali meminta tinggal di tenda. Orang tua juga dapat merasa cemas sehingga anak melihat kegelisahan dari orang terdekatnya.

Hal inilah yang membuat pemulihan rasa aman tidak dapat diperintahkan.

“Pendampingan anak bukan perlombaan agar mereka secepat mungkin berhenti takut. Yang diperlukan adalah ruang aman, orang dewasa yang konsisten, dan kesempatan untuk kembali menjalani kegiatan yang mereka kenal.”

Orang Tua Memegang Peran Besar di Pengungsian

Psikolog dan relawan mempunyai peran penting, tetapi sebagian besar waktu anak tetap dihabiskan bersama keluarga.

UNICEF menyebut anak yang mengalami kejadian sangat berat cenderung lebih terbantu ketika mendapatkan perhatian dan rasa aman dari orang tua atau pengasuh. Anak mungkin membutuhkan jaminan berulang bahwa ada orang dewasa yang menjaga mereka.

Orang tua tidak harus mempunyai kemampuan konseling profesional.

Mendengarkan ketika anak bercerita, tidak mengejek ketakutannya, memberikan pelukan bila anak menginginkannya, serta menjelaskan informasi dengan bahasa sesuai usia sudah dapat membantu.

Orang dewasa juga perlu berhati hati membicarakan kabar yang belum terverifikasi di depan anak.

Rumor tentang gempa yang lebih besar atau tsunami yang disebut akan datang pada jam tertentu dapat memperkuat rasa takut. Informasi keselamatan sebaiknya berasal dari BMKG, BNPB, BPBD, atau petugas resmi.

Kembali Bermain Bukan Berarti Anak Sudah Tidak Takut

Senyum anak ketika mengikuti permainan sering menjadi pemandangan yang menguatkan warga di posko.

Namun, anak yang tertawa pada siang hari belum tentu tidak mengalami ketakutan saat malam.

Perasaan dapat berubah mengikuti situasi. Anak bisa bermain dengan teman kemudian menangis ketika terdengar suara keras atau ketika tanah kembali bergetar.

WHO menyarankan kegiatan familiar seperti bernyanyi, bercerita, bermain, serta rutinitas sederhana sebagai bagian dari dukungan untuk anak dalam situasi darurat. Pada saat yang sama, orang dewasa perlu mengamati perubahan perilaku dan mengetahui kapan anak membutuhkan bantuan lebih lanjut.

Inilah alasan kegiatan psikososial sebaiknya tidak hanya mengejar suasana ramai.

Pendamping perlu menyediakan jalur rujukan bagi anak yang memerlukan penilaian psikolog atau tenaga kesehatan.

Sekolah Menjadi Bagian Penting dari Pemulihan

Gempa juga mengganggu pendidikan dalam skala besar.

Data Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana per 20 Agustus mencatat 1.268 dari 1.378 satuan pendidikan yang terkena gempa telah melaporkan kondisi. Sebanyak 177.678 murid dan 21.166 guru serta tenaga kependidikan berada dalam wilayah yang sekolahnya mengalami kerusakan. Sebanyak 502 satuan pendidikan dilaporkan mengalami kerusakan berat.

Kemendikdasmen kemudian menyiapkan tenda ruang kelas, perlengkapan sekolah, buku, mebel, serta dukungan psikososial bersama organisasi psikologi dan mitra perguruan tinggi.

Kembalinya kegiatan belajar mempunyai fungsi lebih luas daripada mengejar pelajaran yang tertinggal.

Sekolah dapat mengembalikan jadwal yang dikenali anak. Mereka kembali bertemu guru, melihat teman, membaca, menggambar, dan menjalankan kegiatan yang dahulu menjadi bagian dari keseharian.

UNICEF menempatkan akses pendidikan, permainan, serta ruang aman sebagai kebutuhan penting bagi anak setelah bencana.

Pendampingan Perlu Menjangkau Ratusan Posko Mandiri

Tantangan Manggarai Timur berada pada luasnya persebaran warga.

Ribuan orang tidak hanya tinggal di posko utama BPBD. Data Dinas PPPA menunjukkan ratusan posko mandiri dibentuk masyarakat, sehingga layanan psikososial tidak dapat menunggu seluruh anak datang ke satu pusat pelayanan.

Tim perlu bergerak menuju lokasi tempat keluarga bertahan.

Pendekatan bergerak juga penting bagi desa yang akses jalannya sulit atau warga yang masih enggan meninggalkan kawasan sekitar rumah mereka.

Selain psikolog, tenaga yang telah memperoleh pelatihan pertolongan psikologis awal dapat membantu pada tahap awal. WHO menyebut petugas kesehatan, guru, relawan terlatih, serta pekerja layanan kemanusiaan dapat memberikan dukungan awal selama mereka memahami batas kemampuan dan memiliki jalur rujukan.

Kegiatan dapat dibuat sederhana melalui permainan kelompok, cerita, menggambar, aktivitas sekolah sementara, dan percakapan dengan orang tua.

Anak yang memerlukan pelayanan lebih khusus kemudian dapat diarahkan kepada tenaga profesional.

Rasa Aman Harus Tumbuh Bersama Kesiapsiagaan

BMKG menegaskan Flores berada di wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi. Gempa 15 Agustus bersumber dari Sesar Naik Flores, struktur yang memiliki sejarah menghasilkan gempa kuat dan tsunami.

Karena itu, membantu anak merasa aman tidak berarti mengatakan gempa tidak akan pernah terjadi lagi.

Pendekatan yang lebih sehat adalah mengajarkan apa yang harus dilakukan apabila guncangan kembali muncul.

Anak dapat diperkenalkan jalur evakuasi, titik berkumpul, cara melindungi kepala, cara mengikuti guru atau orang tua, serta alasan mengapa mereka harus menjauh dari pantai setelah peringatan tsunami dikeluarkan.

Pengetahuan tersebut dapat mengubah sebagian ketidakpastian menjadi langkah yang dapat dilakukan.

Di Manggarai Timur, kegiatan bermain, menggambar, bernyanyi, layanan kesehatan, sekolah sementara, dan pendampingan psikososial kini berjalan berdampingan dengan proses pemulihan fisik. Ribuan anak masih berada di pengungsian, sehingga pekerjaan terpenting berikutnya adalah memastikan layanan tersebut dapat menjangkau mereka secara berulang, termasuk ketika perhatian publik terhadap gempa mulai berkurang.