Bedah Keunggulan Teknis Mesin Hybrid Mitsubishi XForce HEV Mitsubishi XForce HEV membawa perubahan besar dibandingkan XForce bermesin bensin yang lebih dahulu dipasarkan. Model ini tidak sekadar menambahkan motor listrik untuk membantu putaran mesin. Mitsubishi membangun sistem penggerak yang membuat motor listrik memegang peran utama dalam banyak keadaan perjalanan.
Susunan tersebut terdiri atas mesin bensin 1,6 liter, generator, motor listrik berdaya maksimal 85 kilowatt, baterai penggerak, perangkat pengatur daya, serta transmisi khusus. Seluruh komponen bekerja otomatis untuk menentukan sumber tenaga yang paling sesuai berdasarkan kecepatan, tekanan pedal gas, kondisi jalan, dan kapasitas baterai.
Ketika bergerak perlahan, XForce HEV dapat melaju dengan motor listrik tanpa menyalakan mesin. Pada saat pengemudi membutuhkan akselerasi lebih kuat, mesin bekerja untuk menghasilkan listrik yang kemudian disalurkan kepada motor. Saat kendaraan melaju stabil pada kecepatan tinggi, tenaga mesin dapat diteruskan langsung menuju roda agar penggunaan energi lebih efisien.
Mitsubishi mengembangkan sistem tersebut dari pengalaman perusahaan dalam membuat kendaraan plug in hybrid. Pendekatannya menggabungkan karakter halus kendaraan listrik dengan kemudahan mobil hybrid yang tidak perlu diisi melalui sumber listrik eksternal.
Mesin 1,6 Liter Menggunakan Siklus Atkinson
XForce HEV memakai mesin bensin 1,6 liter DOHC 16 katup MIVEC. Mesin ini tidak hanya berfungsi menggerakkan kendaraan, tetapi juga menjadi sumber tenaga bagi generator ketika baterai membutuhkan pasokan listrik.
Mitsubishi menggunakan siklus Atkinson untuk meningkatkan efisiensi pembakaran. Pada sistem ini, proses kerja katup dibuat agar langkah ekspansi dapat dimanfaatkan lebih optimal dibandingkan mesin bensin biasa.
Siklus Atkinson umumnya tidak mengejar torsi besar dari mesin pada putaran rendah. Kekurangan tersebut ditutup oleh motor listrik yang dapat menghasilkan dorongan sejak kendaraan mulai bergerak.
Kombinasi ini memungkinkan mesin bekerja lebih sering pada rentang yang efisien. Motor mengambil alih kebutuhan tarikan awal, sedangkan mesin tidak harus terus dipaksa menghasilkan tenaga besar pada keadaan yang kurang sesuai.
Mesin XForce HEV juga menggunakan pompa air elektrik. Komponen tersebut menggantikan pompa mekanis yang biasanya terus mengikuti putaran mesin.
Pompa elektrik dapat diatur berdasarkan kebutuhan pendinginan. Ketika suhu mesin masih rendah atau beban ringan, sistem tidak perlu menggerakkan pompa dengan tenaga berlebihan. Mitsubishi menyebut penggunaan perangkat ini membantu mengurangi kehilangan mekanis pada mesin.
Efisiensi Termal Mesin Melebihi 40 Persen
Mitsubishi melakukan penyempurnaan pada mesin 1,6 liter yang digunakan dalam keluarga sistem hybrid perusahaan. Versi yang dipakai XForce HEV dikembangkan untuk menghasilkan keluaran lebih tinggi sekaligus mencapai efisiensi termal lebih dari 40 persen.
Efisiensi termal menunjukkan seberapa besar energi dari bahan bakar yang dapat diubah menjadi tenaga berguna. Sebagian besar energi mesin pembakaran biasanya hilang melalui panas, gesekan, dan gas buang.
Angka di atas 40 persen tergolong tinggi untuk mesin bensin kendaraan penumpang. Hasil tersebut diperoleh melalui pengaturan pembakaran, siklus Atkinson, pengurangan gesekan, pendinginan yang lebih terkontrol, dan kerja mesin yang disesuaikan dengan kebutuhan sistem hybrid.
Keuntungan teknisnya tidak hanya terlihat pada angka konsumsi bahan bakar. Mesin dapat bekerja pada titik yang lebih efisien karena motor listrik menangani perubahan kebutuhan tenaga secara cepat.
Ketika pengemudi menekan pedal gas, motor tidak perlu menunggu putaran mesin naik. Sistem dapat memberikan dorongan awal melalui tenaga listrik, kemudian mengatur kerja mesin sesuai kebutuhan.
Mitsubishi juga mengganti kopling basah pelat majemuk dengan kopling tipe dog yang memiliki gesekan lebih rendah.
“Keunggulan utama XForce HEV bukan hanya keberadaan mesin dan motor dalam satu kendaraan, melainkan kemampuan sistem memilih sumber tenaga yang paling efisien tanpa membebani pengemudi.”
Motor Listrik 85 Kilowatt Menjadi Penggerak Utama
Motor listrik XForce HEV memiliki keluaran maksimal 85 kilowatt. Besarnya setara sekitar 116 PS, meski karakter tenaga listrik tidak dapat dibandingkan hanya melalui angka tenaga puncak mesin bensin.
Motor listrik dapat memberikan torsi sejak awal putaran. Ketika pedal gas ditekan dari keadaan berhenti, dorongan dapat muncul dengan cepat tanpa menunggu transmisi menurunkan rasio atau mesin mencapai putaran tertentu.
Karakter ini terasa saat mobil keluar dari persimpangan, melakukan putar balik, masuk ke jalan utama, atau bergerak dari lampu merah.
Pada lalu lintas padat, motor juga membantu menciptakan pergerakan yang lebih halus. Mesin tidak harus berulang kali menyala setiap kali kendaraan bergerak beberapa meter.
Saat kebutuhan tenaga meningkat, mesin menggerakkan generator untuk memasok listrik kepada motor. Baterai dapat ikut memberikan energi tambahan agar akselerasi tetap responsif.
Mitsubishi menyebut keluaran motor dan baterai dirancang untuk memberikan kenaikan torsi yang cepat. Sistem tersebut membantu kendaraan saat berpindah lajur di jalan tol maupun bergabung ke arus setelah berputar arah.
Tiga Pola Kerja Dipilih Secara Otomatis
Sistem hybrid XForce mempunyai tiga pola kerja utama, yaitu berkendara menggunakan listrik, berkendara hybrid, dan pemulihan energi saat perlambatan.
Pada kecepatan rendah, kendaraan dapat memakai daya baterai untuk menggerakkan motor. Mesin tetap tidak aktif selama kapasitas baterai dan kebutuhan tenaga memungkinkan.
Ketika kendaraan menanjak atau melakukan akselerasi, mesin menyala untuk menggerakkan generator. Listrik dari generator dan baterai digunakan untuk menjalankan motor.
Pada kecepatan tinggi, mesin dapat terhubung langsung menuju roda. Motor tetap dapat membantu apabila kendaraan membutuhkan tambahan tenaga.
Cara ini dipilih karena motor listrik sangat efektif pada kecepatan rendah dan menengah, sedangkan mesin pembakaran dapat bekerja lebih efisien ketika kendaraan melaju stabil pada kecepatan tinggi.
Perpindahan antara ketiga pola berlangsung otomatis. Pengemudi tidak perlu memilih kapan mesin menjadi generator atau kapan tenaga mesin disalurkan langsung ke roda.
Tampilan pada panel instrumen dapat memperlihatkan aliran energi, posisi penggunaan daya, pengisian baterai, serta porsi perjalanan yang ditempuh menggunakan motor listrik.
Transmisi Khusus Mengurangi Kerja yang Tidak Diperlukan
XForce HEV tidak menggunakan CVT seperti versi bensinnya. Sistem hybrid memakai transmisi khusus yang dirancang untuk mengelola hubungan antara mesin, generator, motor, dan roda depan.
Pada kecepatan rendah, mesin tidak perlu terhubung langsung menuju roda. Motor menjadi sumber gerak utama sehingga kendaraan dapat melaju dengan respons yang halus.
Ketika kecepatan meningkat dan sistem menilai tenaga mesin lebih efisien, kopling menghubungkan mesin kepada roda. Perubahan ini dilakukan tanpa meminta pengemudi memindahkan tuas atau mengatur mode transmisi.
Pemakaian dog clutch berhambatan rendah membantu mengurangi energi yang hilang. Motor juga dapat dilepaskan sepenuhnya saat tidak dibutuhkan pada perjalanan berkecepatan tinggi.
Pemisahan tersebut penting karena komponen yang terus berputar akan menciptakan gesekan. Menghentikan putaran motor pada keadaan tertentu membantu menurunkan beban sistem.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa efisiensi hybrid tidak hanya berasal dari mematikan mesin saat berhenti. Pengurangan kehilangan energi juga dilakukan melalui desain mekanis transmisi.
Baterai Tidak Perlu Diisi dari Colokan
XForce HEV merupakan full hybrid tanpa konektor pengisian eksternal. Pemilik tidak perlu memasang pengisi daya di rumah atau mencari stasiun pengisian.
Baterai memperoleh energi dari kerja mesin dan proses pengereman regeneratif. Sistem akan menjaga kapasitas daya agar motor tetap dapat digunakan sesuai keadaan.
Kemudahan ini cocok bagi pengguna yang tinggal di rumah tanpa lahan parkir tetap, apartemen tanpa fasilitas pengisian, atau wilayah yang belum mempunyai banyak stasiun listrik kendaraan.
Pengguna tetap mengisi bensin seperti mobil biasa. Setelah kendaraan dinyalakan, pengaturan mesin, motor, baterai, dan generator dilakukan oleh komputer.
Ukuran baterainya lebih kecil dibandingkan kendaraan plug in hybrid. Jarak berkendara menggunakan listrik murni juga tidak sepanjang mobil dengan baterai besar.
Namun, bobot dan ruang yang dibutuhkan dapat dijaga. XForce tetap mempertahankan bentuk SUV kompak tanpa harus membawa baterai berkapasitas puluhan kilowatt jam.
Pengereman Regeneratif Mengembalikan Energi
Pada mobil bensin biasa, sebagian besar energi gerak berubah menjadi panas ketika rem digunakan. XForce HEV berusaha mengambil kembali sebagian energi tersebut.
Saat kendaraan melambat, motor dapat bekerja sebagai generator. Putaran roda digunakan untuk menghasilkan listrik yang kemudian disimpan dalam baterai.
Proses ini disebut pengereman regeneratif. Sistem membantu mengisi baterai tanpa memakai sumber listrik luar.
Keuntungan paling terasa pada perjalanan perkotaan yang sering melibatkan perlambatan dan berhenti. Energi yang sebelumnya terbuang dapat digunakan kembali untuk menggerakkan kendaraan.
Pengereman regeneratif juga mengurangi sebagian beban rem mekanis. Kampas dan cakram tetap bekerja, terutama saat pengereman kuat atau kendaraan harus berhenti penuh, tetapi tidak selalu menanggung seluruh perlambatan.
Pengemudi dapat melihat status pengisian melalui panel instrumen. Jarum atau grafik daya berpindah ke area Charge ketika energi sedang dikembalikan menuju baterai.
EV Priority Memberi Kendali Lebih Besar kepada Pengemudi
Meskipun sistem bekerja otomatis, Mitsubishi tetap memberi pilihan kepada pengemudi melalui EV Priority.
Mode ini meminta kendaraan mengutamakan penggunaan energi baterai dan motor tanpa menyalakan mesin selama keadaan memungkinkan.
EV Priority berguna ketika kendaraan memasuki kawasan perumahan pada malam hari, bergerak di area parkir, atau melintasi tempat yang membutuhkan suara lebih tenang.
Karena mesin tidak aktif, suara dan getaran dapat ditekan. Kendaraan juga tidak menghasilkan emisi dari knalpot selama benar benar berjalan menggunakan daya baterai.
Mode tersebut tetap mempunyai batas. Mesin dapat menyala apabila baterai terlalu rendah, pengemudi meminta tenaga besar, atau kondisi sistem membutuhkan kerja mesin.
XForce HEV bukan mobil listrik murni sehingga EV Priority tidak dirancang untuk perjalanan jauh hanya dengan tenaga baterai.
Walaupun demikian, pilihan ini memberi kesempatan kepada pengemudi menentukan kapan karakter senyap motor listrik ingin digunakan secara lebih aktif.
Charge Mode Menyiapkan Daya Baterai
Selain EV Priority, XForce HEV menyediakan Charge Mode. Mode ini meminta mesin bekerja untuk meningkatkan kapasitas baterai.
Fitur tersebut dapat digunakan sebelum kendaraan memasuki kawasan yang membutuhkan pergerakan lebih tenang. Pengemudi dapat mengisi baterai selama perjalanan, kemudian menggunakan EV Priority ketika mendekati tujuan.
Charge Mode juga berguna ketika kapasitas baterai rendah dan pengemudi ingin menyiapkan tenaga listrik untuk kondisi jalan tertentu.
Penggunaan mode ini tidak selalu menghasilkan konsumsi bahan bakar paling rendah. Mesin memakai bensin untuk menghasilkan listrik sehingga pengemudi perlu menggunakannya sesuai kebutuhan.
Dalam penggunaan normal, sistem otomatis sudah dapat menjaga baterai dan memilih pola kerja yang efisien. Charge Mode lebih berfungsi sebagai pilihan tambahan ketika pengemudi mempunyai rencana tertentu.
Kombinasi EV Priority dan Charge menjadi dua mode khusus yang berkaitan langsung dengan pengelolaan energi listrik.
Lima Mode Jalan Mengatur Banyak Sistem Sekaligus
XForce HEV memiliki lima mode untuk kondisi jalan, yaitu Normal, Tarmac, Wet, Gravel, dan Mud. Jika EV Priority serta Charge ikut dihitung, jumlah keseluruhannya menjadi tujuh mode.
Mode tersebut tidak sekadar mengubah respons pedal gas. Sistem dapat menyesuaikan kerja rem, mesin, motor, kemudi elektrik, kendali traksi, dan Active Stability Control.
Normal digunakan untuk perjalanan sehari hari dengan keseimbangan antara respons dan efisiensi.
Tarmac memberikan respons lebih tajam untuk jalan beraspal serta jalur berkelok. Kemudi dan keluaran tenaga diatur agar kendaraan lebih mudah mengikuti arah yang dipilih pengemudi.
Wet membantu mengurangi selip ketika jalan basah. Gravel diarahkan untuk permukaan kerikil atau jalan tanpa lapisan aspal, sedangkan Mud membantu kendaraan bergerak pada permukaan berlumpur.
Seluruh mode tetap bekerja melalui penggerak roda depan. XForce HEV bukan kendaraan berpenggerak empat roda, tetapi kendali elektronik digunakan untuk membantu menjaga kestabilan.
Active Yaw Control Membantu Mobil Saat Berbelok
Active Yaw Control atau AYC menjadi bagian penting dari pengendalian XForce HEV. Sistem ini membantu mengatur arah kendaraan melalui pengereman pada roda depan kiri dan kanan.
Ketika mobil berbelok, sistem membaca sudut kemudi, kecepatan, pergerakan kendaraan, serta keadaan roda. Jika arah mobil mulai melebar atau kurang sesuai dengan perintah pengemudi, pengereman pada roda tertentu dapat diterapkan.
AYC tidak mengubah XForce menjadi SUV penggerak empat roda. Sistem juga tidak menggantikan peran pengemudi dalam mengatur kecepatan.
Fungsinya adalah memberi bantuan agar mobil mengikuti garis belok dengan lebih stabil, terutama ketika kondisi permukaan kurang ideal.
Kerja AYC disatukan dengan kendali traksi, Active Stability Control, motor listrik, mesin, dan kemudi. Pengaturannya juga berubah berdasarkan mode berkendara yang dipilih.
Mitsubishi menguji pengaturan tersebut pada jalur pegunungan di Thailand yang mempunyai tanjakan, tikungan, permukaan kerikil, dan perubahan cuaca. Pengujian lapangan digunakan untuk memastikan perbedaan setiap mode benar benar terasa dalam pemakaian, bukan hanya nama pada layar.
“XForce HEV menunjukkan bahwa sistem hybrid dapat dipakai bukan hanya untuk mengurangi konsumsi bensin, tetapi juga untuk mengatur respons kendaraan pada berbagai permukaan jalan.”
Motor Listrik Membantu Pengendalian Tenaga Lebih Presisi
Motor listrik mempunyai keunggulan dalam mengatur tenaga secara cepat. Keluaran dapat dinaikkan atau diturunkan dalam waktu sangat singkat berdasarkan perintah komputer.
Kemampuan tersebut membantu kendali traksi. Ketika roda depan mulai kehilangan cengkeraman, sistem dapat mengurangi tenaga motor tanpa menunggu perubahan putaran mesin.
Pada jalan basah atau kerikil, pengaturan yang presisi membantu mencegah roda berputar berlebihan.
Sebaliknya, ketika kendaraan memerlukan dorongan untuk melewati jalan menanjak, tenaga motor dapat diberikan sejak kecepatan rendah.
Kecepatan respons motor juga membantu perpindahan antara berkendara listrik dan kerja mesin. Pengemudi memperoleh dorongan yang relatif berkesinambungan ketika mesin mulai aktif.
Karakter ini menjadi salah satu pembeda dari mild hybrid. Pada sistem mild hybrid, motor biasanya hanya memberi bantuan terbatas dan tidak menjadi penggerak utama dalam banyak keadaan.
Kabin Lebih Tenang pada Kecepatan Rendah
Ketika XForce HEV bergerak menggunakan motor, mesin tetap mati. Tidak ada suara pembakaran dan getaran mesin yang masuk ke kabin.
Keuntungan ini terasa saat kendaraan bergerak perlahan di area parkir, perumahan, kemacetan, atau antrean.
Mesin tetap dapat menyala sewaktu waktu berdasarkan kebutuhan tenaga dan baterai. Mitsubishi merancang proses penyalaan agar berlangsung halus sehingga perubahan tidak terlalu mengganggu kenyamanan penumpang.
Motor listrik juga mengurangi kebutuhan mesin bekerja pada putaran tinggi ketika kendaraan baru mulai bergerak.
Pada versi bensin dengan CVT, akselerasi dapat membuat putaran mesin naik sebelum kecepatan bertambah. Pada HEV, motor memberikan dorongan langsung sehingga hubungan antara tekanan pedal dan gerak kendaraan terasa lebih cepat.
Saat melaju kencang, suara angin dan ban tetap akan masuk ke kabin. Kelebihan kesenyapan paling terasa pada kecepatan rendah dan menengah.
Konsumsi Bahan Bakar Perkotaan Menjadi Sasaran Utama
Sistem hybrid memperoleh keuntungan besar dalam perjalanan perkotaan. Mobil sering berhenti, melambat, lalu kembali bergerak.
Mesin bensin biasa harus bekerja berulang kali pada keadaan tersebut. XForce HEV dapat memanfaatkan motor untuk tarikan awal dan mematikan mesin ketika tidak diperlukan.
Pengereman regeneratif ikut mengembalikan energi selama perlambatan. Energi itu digunakan kembali pada perjalanan berikutnya.
Mitsubishi sebelumnya menyebut rancangan sistem hybrid dengan mesin 1,6 liter mampu memperbaiki konsumsi bahan bakar perkotaan sekitar 34 persen dibandingkan model bensin CVT dalam pengujian NEDC. Untuk gabungan perjalanan kota dan kecepatan tinggi, peningkatannya disebut sekitar 15 persen. Angka tersebut berasal dari sistem dasar yang juga digunakan pada keluarga HEV Mitsubishi dan hasil pemakaian nyata dapat berbeda.
Kemacetan, tekanan ban, jumlah penumpang, gaya mengemudi, cuaca, dan kualitas bahan bakar tetap memengaruhi hasil.
Keuntungan Teknis Tidak Berhenti pada Angka Irit
XForce HEV menawarkan beberapa keuntungan yang bekerja bersamaan. Mesin Atkinson membantu efisiensi, motor memberi tarikan awal, generator memasok listrik, dan baterai menyimpan energi pemulihan.
Transmisi khusus menghubungkan mesin langsung pada kecepatan tinggi, lalu melepas komponen yang tidak dibutuhkan untuk mengurangi hambatan.
Tujuh mode berkendara memberi pilihan berdasarkan kebutuhan energi dan kondisi jalan. AYC serta kendali traksi memanfaatkan kecepatan respons motor untuk membantu menjaga arah kendaraan.
Seluruh sistem tersebut dirancang agar pengemudi tidak perlu memahami pengaturan teknis secara mendalam. Mobil menentukan pola penggerak secara otomatis dan menampilkan aliran energi melalui panel instrumen.
Keunggulan terbesar akhirnya berada pada penyatuan komponen. Mesin, motor, generator, baterai, rem, dan kemudi tidak bekerja sendiri sendiri.
Mitsubishi merancangnya sebagai satu sistem yang mengejar tiga sasaran sekaligus, yaitu penggunaan bahan bakar lebih rendah, respons akselerasi yang lebih cepat, dan pengendalian yang tetap sesuai dengan karakter jalan di kawasan Asia Tenggara.






